Minggu, 12 Juni 2011

Tak terasa masa kuliah usai sudah, hari bahagia itu telah tiba. Rangga diwisuda di Kampus Biru sebagai lulusan terbaik Program Magister Perencanaan Kota dan Daerah dengan predikat summa cum laude. Suatu prestasi yang membanggakan keluarganya dan Dina, meningat hanya dirinyalah yang menggapai predikat tersebut pada masa wisuda kali ini. Kebahagiaan semakin bertambah karena Dina telah hamil enam bulan, pertanda hubungan mereka semakin intim dan mesra.

Usai wisuda, Rangga kembali ke kota tempatnya bekerja dulu dan telah membeli rumah sesaat setelah menikah, walau dengan cara mencicil. Pagi itu, setelah beristirahat seharian sesampainya di rumah, Rangga menghadap Kepala Bagian (Kabag) Kepegawaian.

"Selamat ya Ga. Kamu sudah berhasil menunaikan tugas negara, dan membawa hasil yang membanggakan buat Pemda kita," Pak Kabag memberikan ucapan selamat pada Rangga.

"Terima kasih Pak," sahut Rangga.

"Baiklah, untuk sementara kamu ditempatkan kembali di Dinas Tata Ruang dan Permukiman, tempatmu dulu. Beberapa bulan ke depan akan ada pelantikan pejabat baru hasil reorganisasi yang menyesuaikan PP terbaru. Jadi tunggu saja penempatan barumu nanti di tempat lama. Sepertinya calon Kadis Infokom tertarik padamu," Pak Kabag menjelaskan bahwa akan ada perubahan struktur organisasi yang berdampak pada perubahan nama maupun tugas masing-masing instansi, dan sedikit memberikan harapan pada Rangga untuk mutasi ke tempat baru.

* * * *

Menjelang pelantikan, gosip ramai bertebaran. Para pejabat lama mulai kasak kusuk memerebutkan kursi basah. Sementara para pegawai muda yang merasa telah cukup golongan juga tak kalah gesit untuk mendekati Kabag Kepegawaian, bahkan hingga Pak Sekda dan Walikota.

"Ga, kamu mau menghadap Pak Sekda gak? Mumpung ada peluang nih, di Kelurahan buat kamu," Andi menawari Rangga untuk menghadap Pak Sekda.

"Terima kasih Di. Aku pengen alamiah aja. Gak perlu ngadep-ngadepan segala. Kalau dibutuhkan syukur, gak ya sudah. Aku pasrah aja," Rangga menampik tawaran Andi.

"Bener nih, gak nyesel. Disini masih seperti itu loh. Kemarin aja ada yang bawa duren ke rumah Om ku," Andi masih mencoba memancing Rangga terus.

"Terserah kamulah. Kalau mau nolongin aku, bisikin aja ke beliau namaku. Gak perlu aku ngadep langsung," sahut Rangga menanggapi pancingan Andi.

* * * *

Hari penantian tiba. Surat undangan pelantikan disebar, namun Rangga sepertinya luput dari undangan. Sementara Andi dengan bangganya menunjukkan surat undangan pelantikan kepada kawan-kawannya. Sorenya, Rangga menerima surat juga, namun isinya berbeda dengan yang diterima Andi. Surat Andi ditandatangani oleh Walikota, sementara untuk Rangga hanya diteken oleh Kabag Kepegawaian.

Esoknya, setelah pelantikan, dilanjutkan dengan acara syukuran di kantor. Andi ditempatkan di Kelurahan sebagai Kasi Pembangunan. Sebuah ironi manakala Rangga ditempatkan di Dinas Infokom sebagai staf khusus Kepala Dinas. Dua sahabat dengan tingkat pendidikan berbeda dan nasib berbeda pula. Andi tampak sumringah menerima selamat promosi walaupun di kelurahan, sementara Rangga hanya duduk termenung di mejanya, meratapi nasibnya yang hanya dimutasi saja.

"Sudahlah Ga, jangan melamun gitu. Mungkin memang belum nasibmu," Dini mencoba menghibur Rangga.

"Rasanya percuma aku sekolah jauh-jauh, cuma untuk jadi staf lagi. Sementara Andi yang gak sekolah saja bisa promosi," keluh Rangga.

"Maklumlah. Diakan ponakannya Pak Sekda, kayak kamu gak tau aja. Lagipula dia juga bersedia ditempatkan di kelurahan. Kalau sekelas kamu cuma ngejar jabatan di Kelurahan sih, sayang Ga. Ilmu kamu gak kepake, cuma ngurus KTP doang. Percuma. Toh nanti juga ada waktunya, mungkin belum saat ini," sahut Dini mengomentari keluhan Rangga.

"Sama saja Din. Aku ditempatkan di Dinas Infokom. Di situ ilmu aku gak berkembang, malah ilmu otodidakku saja yang tumbuh."

"Yang penting kan prinsip dasar ilmunya sama. Cuma beda teorinya aja. Sudahlah jalani saja, sambil cari-cari peluang lain. Siapa tahu ada tawaran di pusat, mumpung sebentar lagi Pemilu, nanti bakal ada departemen baru," Dini mencoba menghibur Rangga.

"Wah, ide cemerlang Din. Moga-moga aja kesampaian," Rangga seperti mendapat semangat baru.

Tidak ada komentar: