LAPORAN PERJALANAN WARTAWAN TANAH DATAR KE MALAYSIA
OLEH : NASRUL CHANIAGO
WARTAWAN HARIAN UMUM KORAN PADANG
Guna menambah pengetahuan dan wawasan kewartawanan, Pemkab Tanah Datar menberangkatkan Sebanyak 22 Wartawan yang tergabung dalam Balai Wartawan Tanah Datar untuk melakukan study banding ke Malaysia. Study banding sejak tanggal 21 Juli s/d 24 Juli 2011. Rombongan para kuli disket Tanah Datar tersebut juga didampingi Staf Humas Pemkab Tanah Datar Nurhayati. Wartawan Harian Umum Koran Padang Nasrul CHaniago yang ikut dalam rombongan tersebut, menuliskan laporan perjalanannya.
Hari Pertama di Malaysia, Kamis (21/07), Rombongan Study Banding yang dipandu biro perjalanan Ahmad Syarif dan Mar Halim mengunjungi Kampus East West College (EWC) Negeri Seremban Malaysia. Rombongan diterima oleh Ketua Eksekutif EWC Prof. Dato' Rahmad Ali, juga didampingi Busines Advisor dan Manager Mokhtar Alias, dan Counsellor of Student Steve, serta beberapa pejabat ECW.
Dihadapan peserta Study banding, Rahmad Ali mengatakan, Di EWC ada empat siswa Tanah Datar sedang mengikuti bangku perkulihan, melalui program bea siswa yang diberikan oleh EWC dan Murad foundation. Mereka mengambil bidang study sertifikat kemahiran EWC dalam perhotelan dengan masa kuliah 3 bulan, serta pratek selama 3 bulan, dan seterusnya bekerja dihotel.
Lima bidang Diploma (D3) yang menjadi fokus EWC, yakni Business Administration, Information Technology, Culinary Arts, Hotel Management, dan Tourism Management. cukup banyak diminati oleh siswa asal Indonesia. Terbukti pada penerimaan mahasiswa tahun 2011 ini, dari 140 calon mahasiswa yang mendaftar di EWC, tiga diantaranya berasal dari Indonesia, yakni dari Blitar Jawa Timur, Sragen Jateng, dan Pekanbaru Riau, tuturnya.
Dikatakannya, cukup banyaknya pelajar antar bangsa yang kuliah di EWC, karena Malaysia mewarisi satu sistem pendidikan yang bermutu dan berkualitas, serta kestabilan politik, perekonomian, dan faktor keamanan maupun keselamatan. " EWC ini memacu pertumbuhan yang signifikan karena berkat tangan dingin tokoh korporat bidang perniagaan dan saat ini menjadi Penasehat EWC Prof. Dato' Abdul Murad" jelasnya.
Esoknya, Jum'at (22/07) Rombongan study banding mengunjungi Yayasan Restu Negeri Selangor Malaysia yang menerbitkan Kitab Suci Alquran tulisan tangan manusia. Di Yayasan ini rombongan diterima oleh Ketua Pengurus Taman Seni Islam Yayasan Restu Selangor, Datuk Abdul Latif Mirasa. Pada saat kunjungan, di Yayasan ini sedang berlansung pameran kaligrafi.
Pada lawatan tersebut, rombongan juga disempatkan oleh pihak pengurus yayasan untuk melihat proses pembuatan Al Qur'an dan melihat duplikat benda - benda peninggalan Rasulullah SAW. Seperti Pedang, tongkat, sandal, panah, busur dan lainnya. " sejarah awal Mushaf Alquran diturunkan kepada Rasulullah SAW secara berperingkat dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari. Hingga kini telah melalui jalan berliku yang panjang dan sejarah tersebut perlu diketahui oleh seluruh umat Islam" Ungkap Latif Mirasa.
Usai di Yayasan tersebut, Rombongan menuju salahsatu media terbesar di Malaysia, yakni Kumpulan Media Karangkraf di Shah Alam Negeri Selangor. Media ini menerbitkan sebanyak 28 majalah dan satu surat kabar Harian, dimiliki oleh pengusaha pribumi asal Malaysia. Rombongan yang diterima oleh Manajer Coorporate Kumpulan Media Karangkraf Hasim Anang di ruangan pertemuan. Disebutkan hashim Anang, Kumpulan Media karangkraf merupakan percetakan terbesar dengan pemilikan saham serikat dan tidak mengharapkan proyek pemerintah, tapi berusaha mencari sendiri produk-produk swasta milik perusahaan internasional.
" kesuksesan Kumpulan Media Karangkraf saat ini melalui proses yang sangat panjang. Bermula secara kecil-kecilan pada 33 tahun lalu, pelbagai rintangan dan tantangan telah dilalui. Saat ini Kumpulan Media Karangkraf telah berjaya dan tampil sebagai pemain utama dalam industri penerbitan dan percetakan negara. " bermula dengan sebuah buku berjudul Sorotan Sejarah Melayu tulisan Johan Jaafar, Kemudian diikuti dengan Majalah Mingguan Kanak-kanak, dan kini telah menerbitkan 28 majalah dan satu surat kabar Sinar Harian dengan delapan edisi negeri" Tuturnya.
Diceritakannya, terbitan pertama sebuah buku berjudul sorotan melayu tulisan Johan Jaafar tersebut telah membakar semangatnya untuk muncul sebagai penerbit berjaya. Itu Langkah awal menumbuhkan syarikat Karangkraf pada tahun 1978 bersama saudaranya Fickry Haji Yaacub dan Mohd Nasir Haji Hamzah. Kesuksesan tersebut dilalui dengan pendekatan popular, dan dicetak penuh warna warni, sehingga buku itu mendapat sambutan yang amat baik dari masyarakat.
Selanjutnya, dikuti dengan penerbitan Mingguan Kanak-kanak yang pernah mencapai edaran 160.000 naskah seminggu. Dan menerbitkan Majalah Gelihati, Remaja dan Bacaria, serta 14 penerbitan lain. Dalam datanya, saat ini jumlah pembaca mencapai empat juta setiap bulan.
Selain penerbitan dan percetakan, Kumpulan Media Karangkraf juga ada program Dana peduli Pendidikan Karangkraf, yakni menberikan beasiswa pendidikan kepada pelajar yang terpilih dan berprestasi. Dan Nota Kesepahaman (MoA) ditandatangani dan disaksikan oleh Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Abdul Razak.
Esoknya, Sabtu (23/07), Rombongan menyempatkan diri singgah ke Istana Diraja Seri Menanti yang terletak di Kuala Pilah Negeri IX Malaysia. rombongan diterima oleh Ketua Museum Diraja Seri Menanti Drs Syamsuddin, di ruangan pertemuan. Menurut Syamsuddin, Istana Diraja ini dibangun pada tahun 1902, dan selesai pada tahun 1908, hingga saat ini masih terjaga keaslian dan ketradisionalannya.
Dikemukannya, Istana Diraja Seri Menanti ini dikerjakan pembangunannya oleh tukang kayu yang mahir dan terkenal di Malaysia, yaitu Kahar dan Taib. Salah satu yang menarik mengenai seni pembangunan istana ini adalah tidak menggunakan sebarang paku dan dibuat empat tingkat yang mempunyai 99 tiang menggunakan kayu Cengal. Dan ditengah-tengah Istana dibangun menara yang dinamakan Tingkat Gunung. Sedangkan bumbungnya menggunakan kayu Cengal yang berbentuk lipatan gunting.
" Ditingkat pertama menempatkan Balai Rong Seri untuk upacara pertemuan, ditingkat dua ada bilik beradu keluarga kerabat Diraja, dan ditingkat tiga dikhaskan untuk Yang Dipertuan Besar serta di Menara Tingkat Gunung ditempatkan khazanah Diraja," urainya.
Pada Kesempatan itu, Syamsudin juga menceritakan asal usul Negeri sembilan, serta sejarah rakyat dan institusi Diraja Negeri IX yang bermula sekurang-kurangnya delapan dekade yang lalu. Dimana, disaat masyarakat Minangkabau dari Sumatra Barat menyeberangi Selat Melaka dan menetap bersama-sama di tempat Puak orang asli di barat Semenanjung Malaysia. Sebenarnya Negeri sembilan tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa merujuk kepada Kerajaan Pagaruyung yang telah lebih dulu dari segi kebudayaan, kerohanian dan siasahnya.**********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar